Demo 22 Mei : Peluru ‘standar militer’ yang ditemukan di tubuh korban meninggal dalam demo di Jakarta ‘dapat digunakan siapa saja’


Polisi masih melakukan pendalaman terhadap sembilan orang yang meninggal dalam kerusuhan terkait hasil pemilu, pada 21 dan 22 Mei lalu.

Juru bicara Mabes Polri Dedi Prasetyo mengatakan dalam tubuh korban meninggal polisi menemukan dua proyektil yang berasal dari peluru berkaliber 5,56 mm dan 9 mm.

Dedi mengatakan polisi sedang melakukan uji balistik terhadap dua peluru tersebut, “namun belum ditemukan senpi (senjata api) jenis apa yang digunakan.”

Pakar militer mengatakan peluru kaliber 5,56 mm dan 9 mm adalah standar militer tapi tidak hanya digunakan oleh polisi atau TNI.

Menurut polisi, empat dari sembilan orang yang meninggal dipastikan terkena peluru tajam sedangkan dari lima korban lainnya yang tidak sempat diotopsi, empat diduga kuat meninggal akibat peluru tajam, satu akibat hantaman benda tumpul.

Peluru ‘standar militer’ yang pernah digunakan di Aceh, Ambon dan Papua

Menurut mantan kepala Badan Intelijen Strategis TNI, Soleman B. Ponto peluru kaliber 5,56 mm dan 9 mm kemungkinan besar berasal dari senjata standar militer.

“Kalau 5,56 itu bisa AK, bisa M16; kalau 9 mili itu senjata tua ya, (misalnya) garand,” kata Soleman kepada BBC News Indonesia.

Namun peluru kaliber tersebut tidak hanya digunakan oleh polisi dan TNI. Soleman mengatakan, peluru standar militer juga pernah digunakan oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM), militan dalam konflik di Ambon dan Papua, serta perampok biasa.

“Tapi yang jelas 5,56 dan 9 (milimeter) itu sekarang sepertinya menjadi senjata yang banyak beredar di luar, sehingga tidak saja itu bisa dipakai oleh militer,” kata Soleman.

Secara terpisah, juru bicara Mabes Polri Dedi Prasetyo mengatakan bahwa meskipun merupakan standar militer atau standar Polri, “amunisi itu bisa dipakai oleh semua orang.”

“Memang ada oknum-oknum (aparat) yang menjual juga… Dari pasar gelap itu kan mudah didapat juga. Dari Filipina itu, mudah didapat itu. Pelaku teroris dapat amunisi senjata dari Filipina Selatan,” tambahnya.

 

Menurut Dedi, peluru tersebut bisa digunakan dengan senjata organik atau senjata standar TNI-Polri maupun senjata rakitan. Jenis senjata api itu bisa ditentukan dari alur proyektil dalam uji balistik.

Namun sejauh ini polisi belum menemukan jenis senjata api yang digunakan untuk menembak para korban dalam kerusuhan 21 dan 22 Mei.

Karena yang kaliber 9 mm kondisinya sudah hancur sehingga alurnya sulit dianalisa oleh tim labfor (lab forensik),” kata Dedi.

Dedi juga mengatakan bahwa polisi belum menentukan kaitan dua proyektil itu dengan delapan orang yang dituduh ‘menunggangi’ unjuk rasa pada tanggal 21 dan 22 Mei untuk melakukan pembunuhan terhadap empat tokoh nasional dan seorang pimpinan lembaga survei.

“Nanti kalau sudah ada hasil uji balistik, akan disampaikan sama Komnas HAM juga,” kata Dedi.

Polisi melakukan investigasi tentang kerusuhan 21 dan 22 Mei dengan berkoordinasi dengan sejumlah lembaga, seperti Kompolnas, Ombudsman, dan Komnas HAM.

Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara mengatakan pihaknya bakal melakukan penelusuran kembali akan jumlah korban yang meninggal setelah mengetahui temuan terbaru dari polisi.

Sebelumnya, Komnas HAM mencatat ada delapan korban yang meninggal di Jakarta, berdasarkan pengaduan keluarga korban.

Beka mengatakan bahwa dalam penyelidikan ini polisi berbagi informasi dengan Komnas HAM meskipun kedua lembaga itu tidak berada dalam satu tim.

“Setiap ada update baik itu dari laboratorium forensik, kemudian dari otopsi, selalu diinformasikan kepada Komnas HAM,” ujarnya.

Direktur Eksekutif Amnesty International Usman Hamid mengapresiasi temuan polri tentang korban meninggal dalam kerusuhan 21 dan 22 Mei, namun menekankan bahwa “polisi tidak boleh berhenti di situ.”

“(Polisi harus) terus mengungkap lebih jauh terkait siapa pelaku penembakannya, dan apakah korban yang tewas karena benda tumpul itu merupakan korban penganiayaan oleh aparat seperti yang dialami oleh Markus Ali,” kata Usman.

Sebelumnya, Kapolri Tito Karnavian mengatakan kepada wartawan bahwa jika terbukti bahwa peluru yang ditemukan di tubuh korban tewas berasal dari senjata aparat, maka pihaknya akan melakukan investigasi apakah tembakan itu sesuai standar operasional prosedur, tindakan berlebihan atau pembelaan diri.

Sumber : https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-48678773

Comments

comments